Rabu, 17 Oktober 2012

Media Sosial Sebagai Modal Sosial


Media Sosial seolah menjadi barang murah, bahkan gratisan, yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Tidak sulit mencarinya. Semua seolah tersaji di hadapan mata. Sekarang keputusannya ada di tangan anda, mau atau tidak. Olah pikir,  keingintahuan, atau keisengan dapat saja menggerakkan jari tangan untuk mendaftar di sebuah media sosial. Mudah dan praktis untuk mulai mencicipi media sosial. Pertanyaannya, apakah rasa dan aromanya itu lezat, pahit, kecut, asam, atau campur aduk?
“Ah, bosan lihat loe ngeblog mulu!”
“Pagi-pagi sudah OL, bukannya ngerumpi sama temen”
“Apa sih untungnya ngeblog selain narsis!”
“Cuma one line post, tidak ada manfaatnya!”
“Semua serba online, belum tentu produktif!”


Itulah beberapa komentar atau uneg-uneg teman yang cenderung negatif, bakan ajakan konfrontatif mengenai aktivitas orang-orang dalam media sosial.  Pernyataan dan pertanyaan tersebut juga sering saya dengar juga di dunia akademik. Ragam sikap dan prilaku dalam menyikapi kehadiran atau menggauli media sosial pun menjadi fenomena yang researchable di mata para akademisi.
*****
Para akademisi selalu berupaya mencermati berbagai fenomena kehidupan, termasuk kehadiran media sosial di dunia maya. Beberapa teori psikologi dan teori sosial pun sering digunakan sebagai kacamata  untuk menelisik geliat media sosial. Penerimaan teknologi internet- termasuk media sosial- oleh masyarakat pun dijelaskan sebagai fenomena sosial dan psikologis. Sebagai contoh, Social Cognitive TheoryTheory of Reason ActionTheory of Planned Behavior dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ada orang yang demen banget sama media sosial, tapi ada ada juga yang anti, atau biasa-biasa saja. Selalu ada alasan atau premis mengenai sikap dan prilaku orang terhadap kehadiran media sosial. Bahkan, daya tarik sebuah media sosial pun dapat ditelisik dengan Technology Acceptance Theory atau Unified Theory of Acceptance and Use of  Technology. Jika itu belum cukup, konten media sosial pun dapat ditakar dengan Webqual Modelatau Media Richness Theory.
Hmmm, cukup sudah kita berteori. Memang itu kerjaan para akademisi dalam menyikapi fenomena media sosial ini. Namanya juga dunia akademik, selalu bergaul dengan teori-teori yang mungkin membosankan bagi para penggiat atau praktisi media sosial. Jangan-jangan para akademisi hanya dapat berteori dan mendekam saja di menara gading, tanpa pernah merasakan sendiri bagaimana suka dan duka berselancar dan bercengkrama di media sosial.  Selalu ada peluang kesenjangan antara dunia teori dengan dunia praktisi. Selalu ada peluang ketertarikan di antara keduanya dalam memaknai keterkaitan orang-orang dalam sebuah media sosial.
Keterkaitan antar satu individu dengan individu di ranah maya dianggap sebuah jejaring sosial yang dapat merepresentasikan hubungan antar manusia. Selalu ada aspek psikologis dan sosial dalam social network yang difasilitasi oleh internet ini. Apakah hubungan tersebut berdampak positif atau negatif. Selalu ada perdebatan tentang itu, terutama antara kubu pesimis dan optimis dengan kehadiran internet dalam mengembangkan jejaring sosial. Cyber-Optimist mempunyai keyakinan bahwa dunia maya dapat membangun  pertemanan yang bermanfaat secara psikologis dan sosial. Namun, kubu Cyber-Pessimist menganggap sebaliknya. Adakah titik tengah dari perdebatan tersebut?
Sebagai sebuah barang digital, media sosial dapat dianggap sebagai pemuas dari kebutuhan penggunanya. Yang terpuaskan mungkin bergabung selamanya, dan menjalin pertemanan dengan sesama penikmat media sosial lainnya. Mereka membentuk sebuah komunitas yang dilandasi kebutuhan  atau motif yang  dapat dipenuhi oleh media sosial. Lalu bagaimana dengan pihak yang tidak menyukai media sosial? Yang jelas, mereka tidak hadir di sini. Karena anti, mereka  menganggap media sosial sebagai komoditas tidak penting . Tidak ada manfaatnya untuk dicicipi. Namun, bukan berarti kubu anti media sosial ini tidak dapat bergaul akrab dengan penikmat media sosial di dunia nyata. Lalu, adakah perbedaan makna di antara mereka sebagai dampak dari sikap pro dan kontra terhadap media sosial? Maksudnya, adakah perbedaan manfaat nyata media sosial dalam kehidupan nyata bagi kubu pro dan kontra?
Salah satu dugaan perbedaan tersebut adalah terkait dengan konsep modal sosial atau social capital. Menurut Worldbank, “Social capital refers to the institutions, relationships, and norms that shape the quality and quantity of a society’s social interactions“. Berbagai riset atau kejadian empiris- tanpa perlu justifikasi riset atau teoritis di sini- menunjukkan bahwa kohesi sosial dapat meningkatkan sumber daya ekonomi atau pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Modal sosial tersebut dapat berubah wujud menjadi “buah  manis” yang mempunyai nilai ekonomi, atau menjadi sebuah keuntungan finansial
Ketika pertemanan memberikan solusi gratis tentang sebuah permasalahan, maka pertukaran ide dan gagasan menjadi sebuah barang yang seolah tidak bertarif. Ketiadaan tarif tersebut sebenarnya menjadi sebuah “penghematan finansial” jika pencarian ide di luar media justru harus berbayar. Contoh lain, ketika distribusi atau pemasaran sebuah obyek berpotensi bisnis- misalnya, sebuah buku- maka jejaring pertemanan akan mereduksi biaya distribusi atau pemasaran. Cakupan distribusi dan pemasaran pun meluas, tanpa ada ongkos untuk menggapainya. Toh, dengan media sosial kita bisa menggapainya dengan marginal cost yang mendekati nol. Ini berlaku untuk yang penikmat media sosial dengan motif bisnis. Atau setidaknya, ada peluang bisnis ke depannya. Lalu bagaimana dengan penikmat media sosial yang tetap konsisten dengan motif sosial saja? Apakah modal sosial tetap dapat diraih dan dimanfaatkannya?
*****
Sama seperti di dunia nyata, kehidupan di media sosial pun seperti mozaik, heterogen, dan penuh dinamika. Ada tokoh utama, panutan, dan selalu menjadi rujukan. Sang Idola di media sosial. Ada juga yang menonton saja. Diam tapi tetap menyimak. Ada juga suporter fanatik, atau sekedar hura-hura saja. Ada yang berteriak lantang, namun tidak sedikit yang hanya bergumam saja, nyaris tak terdengar. Ada identitas yang transparan, namun lebih banyak juga yang tersembunyi atau samar-samar. Nama alias pun bertebaran. Tujuan dan motif bermedia sosial pun sepertinya berbeda-beda. Alasan dan argumentasi beragam. Perbedaan itu mungkin saja menimbulkan perdebatan, membentuk sekat-sekat yang memilah dan memilih siapa mereka dan siapa kami. Kami berbeda dengan mereka. Ada yang adu jotos dan saling mencaci maki, ada juga yang saling memuji dan membela. Media sosial pun akhirnya seolah representasi, atau jangan-jangan, cermin dari hidup dan kehidupan di dunia nyata. Kata-kata pun seolah cermin dari peran dan karakter dari penggiat media sosial. Benarkah?
Ya, hiruk-pikuk dan dinamika media sosial menjadi skeptisme tentang kemungkinan timbulnya modal sosial bagi para penikmatnya. Ketika puluhan ribu, bahkan puluhan juta orang tergabung dalam sebuah media sosial, akhirnya keunikan dan kreatifitas menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan di media sosial. Artinya, belum tentu setiap penikmat media sosial mendapatkan modal sosial yang setara. Kadar atau takaran modal sosial yang diperoleh pun berbeda-beda.
*****
Ini saja tulisan hari ini. Akhirnya ini cuma permainan kata-kata yang cuma memenuhi ruang maya saja.  Dapat bermakna, atau tidak berarti apa-apa. Bisa menjadi sampah elektronik berupa bit-bit elektronik yang memenuhi gudang virtual. Belum tentu ada yang melirik dan tertarik. Belum tentu juga dapat memetik modal sosial.
Lalu mengapa masih memaksakan diri untuk menulis? Kenapa tidak! (/kompasiana)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar